Jumat, 30 Juni 2017

CERPEN 2

Anugerah Penuh Arti
          Denting-denting mulai beralun, detik demi detik kehidupan juga berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam perjalanan panjang seperti dengan ombak pantai yang masih kecil hingga ombak pantai yang sebegitu dahsyat nya. Itulah kehidupan, dimana kita melangkah disitulah tujuan kita. Dalam sebuah langkah terdapat liku-liku kehidupan yang wajib semua umat untuk melaluinya.
            Ketika masih dalam masa kecil yang belum mengetahui tentang banyak hal, masih belum mengerti makna dalam sebuah arti kehidupan pun, masih berwajah polos dan lugu. Tetapi ketika menjelang dewasa kita pun mengerti banyak hal seperti petir dahsyat yang menyambar dalam hidup kita, seakan kita tidak menyerah untuk melakukan nya.
“zzzttttttt...grkkk,,grrkk” suara gelombang radio yang terpecah-pecah seakan mengusik tidurku.
“suara apa’an sih ini!!” dengan mata yang masih terpejam dan langsung menutup telinga ku dengan bantal. Dengan mata yang sayu sambil menerjam-nerjamkan mata melihat atap kamar tidur..
“sudah jam berapa ya?? (hoaams)” sambil melihat jam beker di sebelah ku.*Gubraaaaakkkk!!! tiba-tiba aku terjatuh dari tempat tidur
“aduuuh,, sakitt”, ucapku dengan lemas.
“haa?? Sudah jam 6 ??” dengan tanpa aku sadari, bahwa aku telah telat untuk masuk sekolah. Dan sesegera mungkin untuk ke kamar mandi dan mandi secara estafet agar bisa cepat-cepat pergi ke sekolah.
*Kriiiingggg!!!! Kriiiiing !!! Kriiingggggg !!!
Suara bel sekolah yang nampaknya aku telat, Aku pun berlari hingga saatnya aku berada di depan gerbang
“Ayo cepat-cepat, kalian itu telat!! Eits, Nayla !! tumben kamu terlambat? Ada apa ? “, ucap Guru BK ku yang sudah siaga di depan pintu lorong sekolah
“ Hehehe, maaf bu saya kesiangan, soalnya akhir-akhir ini saya ngerjakan tugas hingga larut malam “, sahut ku
“ Oh, yasudah silahkan masuk ke kelas, tapi tunggu di depan kelas dulu, soalnya ada do’a bersama “
“ Iya terimakasih bu “

“ Assalammualaikum.. Nis, tugas mu sudah ? kalau sudah aku lihat dong, aku nomer 4 sama 8 gak tau maksudnya apa “, sambil bertanya kepada Nisa sahabat sebangku ku
“ Sudah, ini bukunya “ , jawabnya
“ Ahh, syukurlah. Makasih ya “
            Pelajarang pun sudah dimulai, dan dengan pelajaran pertama dalam waktu itu adalah mata pelajaran B.inggris. Dimana guru ku sedang mengajar, aku pun asik untuk mengerjakan tugas lain. Dan pada saat itu guru ku menjelaskannya dengan berjalan ke arah anak-anak dan aku pun tidak mendengarkannya. Lalu...
“ Nayla!! Kamu lagi garap apa ?”, ujar guru ku dengan mengagetkanku.
“Mmm, maaf bu”, balasku dengan menyesal
“Silahkan masukan buku pelajaran lain kedalam tas, karena ini jam saya, bukan jam pelajaran lain”
“Iya bu, maaf”
“Yasudah dengarkan saya”
“Kamu kok gak bilang sih Nis kalau ada Mam Rina di belakang ku?”, sambil mengetuk-ngetuk bulpoin ke meja
“Aku sebenernya mau bilang ke kamu, tapi sama Mam gak boleh bilang”, ucap Nisa
“Ah, kamu Nay selalu aja mengerjakan tugas di sekolah”, kata Rina sahabatku yang duduk berada di belakang ku dan Anisa
“Aku semalam mengerjakan, tapi aku belum mengerjakan Cuma no.4 dan 8”, jawab ku
“Kamu kurang 2 nomor aja udah pusing, kayak aku dong belum sama sekali”, sahut Anggi
“Ah kamu mah orang nya males, jadi aku gak mau ikut lola mu deh”
“Asem, oh kamu gitu sekarang Nay”
 “Kriiiing....Kriiiing”, 2x bel berbunyi yang bertanda jam istirahat, dimana aku melihat sosok teman-teman ku yang begitu buram di mata ku, dan gelap rasanya aku memandang mereka, suara yang awalnya terdengar dengan keras menjadi suara yang sunyi aku dengar. Entah mengapa itu terjadi kepadaku, serasa kepala tertimpa banyak tumpukan banyak buku-buku.
“Kamu kenapa Nay ?”, tanya Anggi kepada ku
“Nggak papa kok, mungkin aku kecapekan aja, aku ke kamar mandi dulu ya”, ucapku ke tema-teman ku
“Perlu aku antar Nay ?” tanya Jessica
“Gak usah gak papa kok, aku bisa sendiri”, jawabku sambil tersenyum kepada mereka
“Oh oke, aku tunggu di kantin ya, kamu mau pesan apa ?”, ujar Nisa
“Mmmm, mie ayam aja ya, kayak biasanya”, jawab ku
Aku berjalan menuju ke kamar mandi, dengan melihat wajah ku sambil membasuh muka ku dengan air, tiba-tiba terdapat darah di sekujur tangan ku, Aku pun kaget untuk melihatnya. Aku usap hidung ku yang berdarah itu agar semua orang tidak mengetahui dengan keadaan ku yang sebenarnya. Setelah keluar dari kamar mandi sambil menundukan kepalaku dengan berjalan, tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang menabrak ku dengan terburu-buru masuk ke kamar mandi pria.
(menabrak)”Aduh..”, ucapku dengan kesakitan
“Maaf...maaf...aku keburu-buru!!, lain kali aku akan hati-hati”, ucap Bagas salah satu anak yang famous di sekolah
“Iya gapapa, lain kali hati-hati ya”, jawabku
Aku pun bergegas untuk pergi ke kantin sesuai dengan janji ku kepada teman-teman ku.
“Heii, mana makanan ku ?”, tanya ku ke mereka
“Belum Nay, masih ramai nih, aku aja belum makan daritadi”, ucap Jessica
“Alaaah, lama banget. Gak jadi deh, 5menit lagi sudah masuk kita. Ayo ke kelas, kantin rame banget kayak pasar”
“Aduh Nay, aku lapeeerrr”, sahut Jessica
“Ah kamu makan mulu, itu perut atau karet ? bukan nya tadi kamu sudah makan dari bekal kamu di rumah kan ?”, jawab Anggi
“Ayo ke kelas, aku gak mau telat pelajaran lagi kayak tadi pagi”, ajak ku ke mereka
“Yaudah ayo”, ucap mereka
Dengan tanpa disadari, aku berjalan 5 langkah menuju pintu kelas, kepala terasa pusing seperti tadi yang Aku alami, benda di sekitar terasa melayang, muka teman-teman ku pun menjadi pudar. Tiba-tiba aku pinsan dan tidak sadarkan diri
“Nay, kamu gapapa?”, terjelas suara teman-temanku dalam telingaku,tetapi kepala terasa pusing dan mata merasa tak kuat untuk melihatnya.
           Dengan mata yang menerjap-nerjap, seolah tidak mengetahui keberadaanku, aku berada dalam sebuah ruangan yang hening dan sangat nyaman dengan selimut yang melilit ditubuhku. Aku pun bertanya kepada temanku dimana sekarang dan apa yang aku lakukan sebelum berada disini
“Aku dimana?”, dengan serak sambil membuka mata perlahan
“Kamu di UKS Nay, kamu seharian ini merasa kecapekan? Apa kamu sekarang sudah membaik?”
“Ya agak lemes sih badanku, masih pusing juga. Tapi gapapa kok masih bisa aku tahan”, sambil membangunkan tubuhku
“Eeeh, kamu mau kemana? Disini dulu jangan kemana-mana. Kamu masih sakit, lagian sudah diijinkan sama guru piket UKS untuk ngijinin kamu disini. Udah sana kamu tidur dulu”, Jawab Anggi
“Iya Nay bener kata Anggi. Kamu istirahat dulu aja disini, biar badan kamu agak enakan”, sahut Nisa
“Aku sudah gapapa kok, ayo ke kelas. Rugi tau kalau gak ikut pelajaran sekali”
“Halaah kamu sakit masih bisa aja ngurusin pelajaran. Urusin badan kamu aja dulu baru ngurusin sekolah”, ucap Jessica
“Tapii....”
“Gak usah pakek tapi-tapian! Sekarang kamu istirahat biar kita disini jagain buat kamu”
“Emm, makasih ya teman-teman”
“Biasa aja kalii, kayak kita bukan siapa-siapa mu aja”
Seakan aku bangga bahwa aku dikelilingi sosok sahabat yang menyayangi dan yang selalu menjaga ku disaat suka maupun duka. Seiring berjalannya waktu, kondisi ku semakin melemah, dan tidak ada satu orang pun yang mengetahui oleh kondisi ku. Kecuali kedua orang tua ku, beliau adalah seorang malaikat yang tiada habisnya untuk menjaga dan merawat ku dari diriku yang belum mnejadi manusia yang dilahirkan hingga sebesar diriku yang seperti ini. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apapun, mungkin dengan banyaknya uang ataupun bergelimang harta pun tidak akan cukup untuk membalas jasa kedua orang tua ku.

Hingga pada saat nya, disaat aku terbaring lemah dan tak berdaya di tempat yang gelap dan hening terdapat radar ku yang pergi entah kemana. Nafas seakan hidup, tapi jiwa ini masih diambang kematian. Terdapat cahaya yang begitu menyilaukan mata di hadapan ku, disaat itulah diriku melangkahkan kaki ku. Dengan penuh keyakinan, aku terus melangkah hingga ku dapatkan cahaya terang itu, semakin mendekat maka semakin perlahan jantung yang terus berdegup, hingga akhirnya terpejamnya mata dan berhentinya kehidupan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar