Anugerah Penuh Arti
Denting-denting
mulai beralun, detik demi detik kehidupan juga berjalan seiring dengan
berjalannya waktu. Dalam perjalanan panjang seperti dengan ombak pantai yang
masih kecil hingga ombak pantai yang sebegitu dahsyat nya. Itulah kehidupan,
dimana kita melangkah disitulah tujuan kita. Dalam sebuah langkah terdapat
liku-liku kehidupan yang wajib semua umat untuk melaluinya.
Ketika masih dalam masa kecil yang
belum mengetahui tentang banyak hal, masih belum mengerti makna dalam sebuah
arti kehidupan pun, masih berwajah polos dan lugu. Tetapi ketika menjelang
dewasa kita pun mengerti banyak hal seperti petir dahsyat yang menyambar dalam
hidup kita, seakan kita tidak menyerah untuk melakukan nya.
“zzzttttttt...grkkk,,grrkk”
suara gelombang radio yang terpecah-pecah seakan mengusik tidurku.
“suara apa’an sih
ini!!” dengan mata yang masih terpejam dan langsung menutup telinga ku dengan
bantal. Dengan mata yang sayu sambil menerjam-nerjamkan mata melihat atap kamar
tidur..
“sudah jam berapa
ya?? (hoaams)” sambil melihat jam beker di sebelah ku.*Gubraaaaakkkk!!!
tiba-tiba aku terjatuh dari tempat tidur
“aduuuh,, sakitt”,
ucapku dengan lemas.
“haa?? Sudah jam 6
??” dengan tanpa aku sadari, bahwa aku telah telat untuk masuk sekolah. Dan
sesegera mungkin untuk ke kamar mandi dan mandi secara estafet agar bisa
cepat-cepat pergi ke sekolah.
*Kriiiingggg!!!!
Kriiiiing !!! Kriiingggggg !!!
Suara bel sekolah
yang nampaknya aku telat, Aku pun berlari hingga saatnya aku berada di depan
gerbang
“Ayo cepat-cepat,
kalian itu telat!! Eits, Nayla !! tumben kamu terlambat? Ada apa ? “, ucap Guru
BK ku yang sudah siaga di depan pintu lorong sekolah
“ Hehehe, maaf bu
saya kesiangan, soalnya akhir-akhir ini saya ngerjakan tugas hingga larut malam
“, sahut ku
“ Oh, yasudah
silahkan masuk ke kelas, tapi tunggu di depan kelas dulu, soalnya ada do’a
bersama “
“ Iya terimakasih
bu “
“
Assalammualaikum.. Nis, tugas mu sudah ? kalau sudah aku lihat dong, aku nomer
4 sama 8 gak tau maksudnya apa “, sambil bertanya kepada Nisa sahabat sebangku
ku
“ Sudah, ini
bukunya “ , jawabnya
“ Ahh, syukurlah.
Makasih ya “
Pelajarang pun sudah dimulai, dan
dengan pelajaran pertama dalam waktu itu adalah mata pelajaran B.inggris.
Dimana guru ku sedang mengajar, aku pun asik untuk mengerjakan tugas lain. Dan
pada saat itu guru ku menjelaskannya dengan berjalan ke arah anak-anak dan aku
pun tidak mendengarkannya. Lalu...
“ Nayla!! Kamu
lagi garap apa ?”, ujar guru ku dengan mengagetkanku.
“Mmm, maaf bu”,
balasku dengan menyesal
“Silahkan masukan
buku pelajaran lain kedalam tas, karena ini jam saya, bukan jam pelajaran lain”
“Iya bu, maaf”
“Yasudah dengarkan
saya”
“Kamu kok gak
bilang sih Nis kalau ada Mam Rina di belakang ku?”, sambil mengetuk-ngetuk
bulpoin ke meja
“Aku sebenernya
mau bilang ke kamu, tapi sama Mam gak boleh bilang”, ucap Nisa
“Ah, kamu Nay
selalu aja mengerjakan tugas di sekolah”, kata Rina sahabatku yang duduk berada
di belakang ku dan Anisa
“Aku semalam
mengerjakan, tapi aku belum mengerjakan Cuma no.4 dan 8”, jawab ku
“Kamu kurang 2
nomor aja udah pusing, kayak aku dong belum sama sekali”, sahut Anggi
“Ah kamu mah orang
nya males, jadi aku gak mau ikut lola mu deh”
“Asem, oh kamu
gitu sekarang Nay”
“Kriiiing....Kriiiing”, 2x bel berbunyi yang
bertanda jam istirahat, dimana aku melihat sosok teman-teman ku yang begitu
buram di mata ku, dan gelap rasanya aku memandang mereka, suara yang awalnya
terdengar dengan keras menjadi suara yang sunyi aku dengar. Entah mengapa itu
terjadi kepadaku, serasa kepala tertimpa banyak tumpukan banyak buku-buku.
“Kamu kenapa Nay
?”, tanya Anggi kepada ku
“Nggak papa kok,
mungkin aku kecapekan aja, aku ke kamar mandi dulu ya”, ucapku ke tema-teman ku
“Perlu aku antar
Nay ?” tanya Jessica
“Gak usah gak papa
kok, aku bisa sendiri”, jawabku sambil tersenyum kepada mereka
“Oh oke, aku
tunggu di kantin ya, kamu mau pesan apa ?”, ujar Nisa
“Mmmm, mie ayam
aja ya, kayak biasanya”, jawab ku
Aku
berjalan menuju ke kamar mandi, dengan melihat wajah ku sambil membasuh muka ku
dengan air, tiba-tiba terdapat darah di sekujur tangan ku, Aku pun kaget untuk
melihatnya. Aku usap hidung ku yang berdarah itu agar semua orang tidak
mengetahui dengan keadaan ku yang sebenarnya. Setelah keluar dari kamar mandi sambil
menundukan kepalaku dengan berjalan, tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang
menabrak ku dengan terburu-buru masuk ke kamar mandi pria.
(menabrak)”Aduh..”,
ucapku dengan kesakitan
“Maaf...maaf...aku
keburu-buru!!, lain kali aku akan hati-hati”, ucap Bagas salah satu anak yang
famous di sekolah
“Iya gapapa, lain
kali hati-hati ya”, jawabku
Aku pun bergegas
untuk pergi ke kantin sesuai dengan janji ku kepada teman-teman ku.
“Heii, mana
makanan ku ?”, tanya ku ke mereka
“Belum Nay, masih
ramai nih, aku aja belum makan daritadi”, ucap Jessica
“Alaaah, lama
banget. Gak jadi deh, 5menit lagi sudah masuk kita. Ayo ke kelas, kantin rame
banget kayak pasar”
“Aduh Nay, aku
lapeeerrr”, sahut Jessica
“Ah kamu makan
mulu, itu perut atau karet ? bukan nya tadi kamu sudah makan dari bekal kamu di
rumah kan ?”, jawab Anggi
“Ayo ke kelas, aku
gak mau telat pelajaran lagi kayak tadi pagi”, ajak ku ke mereka
“Yaudah ayo”, ucap
mereka
Dengan tanpa
disadari, aku berjalan 5 langkah menuju pintu kelas, kepala terasa pusing
seperti tadi yang Aku alami, benda di sekitar terasa melayang, muka teman-teman
ku pun menjadi pudar. Tiba-tiba aku pinsan dan tidak sadarkan diri
“Nay, kamu
gapapa?”, terjelas suara teman-temanku dalam telingaku,tetapi kepala terasa
pusing dan mata merasa tak kuat untuk melihatnya.
Dengan mata yang menerjap-nerjap,
seolah tidak mengetahui keberadaanku, aku berada dalam sebuah ruangan yang
hening dan sangat nyaman dengan selimut yang melilit ditubuhku. Aku pun
bertanya kepada temanku dimana sekarang dan apa yang aku lakukan sebelum berada
disini
“Aku dimana?”,
dengan serak sambil membuka mata perlahan
“Kamu di UKS Nay,
kamu seharian ini merasa kecapekan? Apa kamu sekarang sudah membaik?”
“Ya agak lemes sih badanku, masih pusing juga. Tapi gapapa kok masih bisa aku tahan”, sambil membangunkan tubuhku
“Ya agak lemes sih badanku, masih pusing juga. Tapi gapapa kok masih bisa aku tahan”, sambil membangunkan tubuhku
“Eeeh, kamu mau
kemana? Disini dulu jangan kemana-mana. Kamu masih sakit, lagian sudah
diijinkan sama guru piket UKS untuk ngijinin kamu disini. Udah sana kamu tidur
dulu”, Jawab Anggi
“Iya Nay bener
kata Anggi. Kamu istirahat dulu aja disini, biar badan kamu agak enakan”, sahut
Nisa
“Aku sudah gapapa
kok, ayo ke kelas. Rugi tau kalau gak ikut pelajaran sekali”
“Halaah kamu sakit
masih bisa aja ngurusin pelajaran. Urusin badan kamu aja dulu baru ngurusin sekolah”,
ucap Jessica
“Tapii....”
“Gak usah pakek
tapi-tapian! Sekarang kamu istirahat biar kita disini jagain buat kamu”
“Emm, makasih ya
teman-teman”
“Biasa
aja kalii, kayak kita bukan siapa-siapa mu aja”
Seakan aku bangga bahwa aku dikelilingi sosok sahabat yang
menyayangi dan yang selalu menjaga ku disaat suka maupun duka. Seiring
berjalannya waktu, kondisi ku semakin melemah, dan tidak ada satu orang pun
yang mengetahui oleh kondisi ku. Kecuali kedua orang tua ku, beliau adalah
seorang malaikat yang tiada habisnya untuk menjaga dan merawat ku dari diriku
yang belum mnejadi manusia yang dilahirkan hingga sebesar diriku yang seperti
ini. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apapun, mungkin dengan banyaknya
uang ataupun bergelimang harta pun tidak akan cukup untuk membalas jasa kedua
orang tua ku.
Hingga pada saat nya, disaat aku terbaring lemah dan
tak berdaya di tempat yang gelap dan hening terdapat radar ku yang pergi entah
kemana. Nafas seakan hidup, tapi jiwa ini masih diambang kematian. Terdapat
cahaya yang begitu menyilaukan mata di hadapan ku, disaat itulah diriku
melangkahkan kaki ku. Dengan penuh keyakinan, aku terus melangkah hingga ku
dapatkan cahaya terang itu, semakin mendekat maka semakin perlahan jantung yang
terus berdegup, hingga akhirnya terpejamnya mata dan berhentinya kehidupan ini.