Kamis, 15 Juni 2017

CERPEN 1

Senyum di balik Tirai

Pagi hari yang menyegarkan yang belum tercemar oleh polusi, Aku menghirup udara hingga merasuk sukma. Daun yang berguguran meninggalkan rantingnya dengan embun pagi yang sejuk mengitari tubuh ku.
Jam berjalan seiring dengan detiknya, dan begitu juga dengan kita yang berjalan sesuai dengan bumi yang berputar pada porosnya. Dia, dia yang begitu aku kenal dengan baik dan bersikap acuh tak acuh kepadaku. Sifat yang acuh tak acuh itu membuat sejuta rahasia bagiku, membuat sejuta pertanyaan yang ingin ku ketahui tentang nya.
Suatu ketika Dia memperhatikan ku dari kejauhan, Aku pun mengetahui hal itu tapi aku tidak mau mempunyai rasa percaya diri itu, hingga aku pun menghilangkan rasa itu. Entah apa yang aku rasakan sejak awal masuk kelas itu. Awal aku mengenalnya, aku melihat nya yang berbeda. Dia yang berbeda dari anak lain, Dia menjadi sosok yang pendiam yang kurang begitu care ke sesama teman kelas. Seiring berjalan nya waktu pun, dia menjadi sesosok yang riang, dan pintar dari teman laki-laki di sekolah.
Suatu ketika..
“Hai”, sapa ku
“Iya? Ada apa?”, jawabnya singkat
“Nggak papa, Cuma pingin kenal aja. Nama kamu siapa?”
“Namaku Rayan”, sambil tersenyum kepadaku
“Oh, namaku Kanaya. Salam kenal ya”, dengan membalas senyumnya
Dengan waktu yang singkat itu, aku pun merasa nyaman dengan nya. Entah apa yang Aku rasakan waktu yang sesingkat itu.
***********
“Kriiiiing....kriing...”
Jam yang menandakan istirahat aku yang berjalan bersama teman-teman ku menuju ke kantin sekolah melewati taman kecil di sekolah.
“Mau beli apa Nay ?”, tanya Sarah
“Gak tau mau beli apa, kamu sendiri mau beli apa? “
“Aku mau beli Es Krim dulu ya Nay”, sahut Nuri
“Oke aku tunggu disini ya”, ucap ku. Dengan tanpa sadar aku melihat ke arah taman, aku melihat sosok pria yang sedang duduk termenung dan melamun. Aku pun dengan tidak sadar meninggalkan teman-teman ku di kantin, berjalan menuju ke arahnya dan menyapanya.
“Hai.. boleh aku duduk disini?”, tanya ku kepadanya dengan tersenyum
“Mmm, silahkan”, dengan menjawab dan membalas senyuman dariku
“Mmm, kamu sedang ngapain ada disini sendiri? galau yaaa? “ , tanya ku sambil bergurau
“Gak ngapa-ngapain sih, lagi pingin sendiri aja, kenapa memang nya?“, jawabnya sambil melihat awan di atas langit
“Yaa enggak sih, Cuma aku lihat kamu kok kayaknya ada masalah gitu? Ya bukan nya aku sotoy sih, Cuma aku kan care sama semua temam-teman ku. Jadinya aku pingin tau kamu kenapa “
“ Kepo yaa hayooo”, jawabnya gurau
“Hahaha bisa aja kamu, ya enggak lah. Kenapa sih dengan kamu? ada masalahkah di rumah atau sama teman-teman? “, tanyaku
“Eh, lihat itu ada kupu-kupu di bunga matahari itu. Lihat deh cantik loh kupu-kupunya”, dengan memalingkan sebuah pembicaraan dan seakan menjauhkan ku dari pertanyaan ku.
“Aaaah masih cantikan aku daripada kupu-kupu itu”
“Haduh, PD banget sih kamu haha. Ya memang kamu cantik, kan kamu perempuan?”
“Hahaha iya lah aku perempuan, masak aku perempuan jadi-jadian?”
“Hahaha aku gak ngomong loh ya, kamu sendiri yang sadar”
“Tuh kan jahat haha”
            Dengan perbincangan yang singkat itu, hari itu telah berganti dengan hari esok. Hari dimana Rayan tidak masuk sekolah. Aku pun bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tidak masuk kelas? Apa dia sakit? Atau mungkin ada acara mendadak di keluarganya. Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, aku bertanya ke teman terdekat nya mengapa Rayan tidak masuk sekolah hari ini, tetapi semua teman terdekatnya tidak tahu dengan keadaan Rayan saat ini. Sambil mencari tau keadaan dari Rayan, aku melihat HP dengan melihat kontak BBM dari Rayan. Dengan pemberitahuan 12 menit yang lalu, Rayan mengganti statusnya dengan “brokenhome!” . langsung aku chat personal dengan dia.
Dalam personal chat aku bertanya, “Kenapa gak masuk sekolah?”
“Aku gak enak badan, suratnya besok menyusul”
“Oh, Get well soon ya J. Jangan lupa besok suratnya dibawa, oh iya kenapa dengan status kamu?”
“Oh itu ta? Gapapa kok”
“kamu brokenhome? Ada masalah apa di rumah? Cerita aja gak papa kok, mungkin aku bisa kasih tau solusinya apa ke kamu”
“Kepo atau care hayoo? Haha, sudahlah aku gak papa, sudah sana sekolah, belajar yang pinter yaJ
“Mmm yasudalah kalau memang nggak mau cerita, memang kan nggak semua masalah harus diceritakan. Yang sabar ya, jangan lupa makan sama istirahat yang teratur biar cepet sembuh.”
“Iya terima kasih.”
“Sama-sama kawanJ
            Setelah melakukan personal chat dengan Rayan, aku merasa banyak sejuta rahasia dalam dirinya. Entah mengapa aku merasa ingin tahu semua yang ada dalam dirinya, atau itu yang disebut CINTA? Aah, kata yang terbesit dalam pikiran ku segera aku hapus, tidak mungkin cinta datang secepat kilat tanpa disadari. Pelajaran hingga kalut, tidak tahu apa yang ingin di pelajari, apa yang di dengar oleh menyampaian guru pun. Seakan fokus dalam diri hilang di hari ini, sejuta kekhawatiran diriku kepada Rayan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
            Melihat ke kanan atas, jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dengan lamunan ku seharian membuatku lupa untuk makan dan mengerjakan tugas dari guru. Pergantian jam mata pelajaran pun sudah dimulai, yakni mata pelajaran oleh wali kelas sendiri. Bu Widya memasuki kelas, tak lama memasuki kelas, terdapat seorang guru dari ruang Tata Usaha mendatangi kelas dan mmanggil Bu Widya.
“Bu maaf mengganggu pelajaran, ada telfon dari orang tua siswa kelas XI-IPA1 “
“Oh iya Pak, terima kasih ya. Anak-anak tolong dibaca tentang Sistem Gerak bab 3 ya. Kalau kalian tidak paham, silahkan di garis bawahi dulu baru tanyakan ke saya”, Ucap Bu Widya
“Iya bu!!”, seruan anak sekelas
Beberapa menit kemudian, Bu Widya kembali ke kelas dengan raut wajah yang sedih,
“Ibu kenapa? “, tanya salah satu anak
“Anak-anak ada berita yang tidak bagus”, ucapnya singkat
“Loh ada apa Bu?, ayo ceritakan saja”
“Jadi tadi ada orang tua wali murid dari Rayan, kalau Rayan baru saja kecelakaan”
“Haa? Beneran bu? Tadi masih chat BBM sama saya kok”, kaget ku
‘“Ya kan itu tadi, tapi takdir Tuhan mana tau?”,jawab Bu Widya
 “Memang ada masalah apa bu kok sampai Rayan kecelakaan?”, tanya ku
“Kamu kenapa sih Nay, kok kayaknya khawatir gitu ke Rayan”, tanya Nuri heran kepadaku
“Iya Nay, kamu suka sama Rayan?”, tanya Bu Widya
“E enggak kok bu, Cuma kan teman harus saling khawatir dengan keadaan teman nya sendiri”, Ngelesku
“Yasudah nanti pulang sekolah ini saya mau ke rumah Rayan, ada yang mau ikut dengan saya?”
“Saya ikut Bu”. Jawab ku cepat
            Sesudah sampainya di rumah Rayan, Kami pun bertemu dengan Ibu dari Rayan, dengan senduh tangis yang menggelimang membasahi pipinya. Ibu Rayan pun mempersilahkan kami untuk memasuki rumahnya.
“Assalammualaikum”, seru kami mengetuk pintu
“Waalaikumsalam, silahkan masuk”, jawab ibu Rayan, sambil mempersilahkan kami duduk di ruang tamu dan menyuruh pembantunya untuk membuatkan secangkir teh hangat sebagai hidangan.
“Jadi gini, kenapa kok bisa Rayan kecelakaan ? memang ada masalah kah di rumah?” tanya Bu Widya
“Ya sebenarnya saya sama Ayah Rayan berpisah, dan Rayan mengetahui kalau saya sebenarnya hanya Ibu Tirinya bukan Ibu kandung nya. Karna pada saat itu Rayan masih kecil dibuang oleh Ibu nya, tetapi Ayahnya mencari Rayan dan akhirnya menemukan Rayan. Dan waktu saya menikah dengan Ayahnya Rayan, saya sudah mengakui bahwa Rayan adalah anak kandung saya.”
“Jadi, Rayan bukan anak kandung Ibu? Terus gimana dengan Rayan?”, tannyaku
“Awalnya Rayan menerima kenyataan pahit ini, dan akhir-akhir ini Ayah Rayan sering kali menyakiti saya dan memukuli saya hingga saya meninggalkan rumah dan Rayan. Rayan pun membela saya dan memberontak Ayahnya, tetapi malah Rayan yang terkena celaan dari Ayahnya”, jawab Ibu Rayan dengan menangis
“Terus kenapa Rayan bisa kecelakaan Bu?”, tanya Bu Widya
“Dari semalam Rayan pergi ke rumah saya dengan keadaan hujan-hujan, hingga dia demam. Maka dari itu dia tadi tidak saya perbolehkan masuk ke sekolah. Dan tadi Ayah Rayan datang kerumah saya untuk menjemput Rayan, tapi anaknya tidak mau untuk pulang bersama Ayahnya. Mangkanya dia langsung pergi dengan motornya yang sangat cepat, entah kemana dia pergi. Daritadi saya mengkhawatirkan Rayan, karna dia ngebut sekali dengan kendaraannya”, jawab Ibu Rayan. Aku pun sejenak terdiam dan akupun mulai menemukan jawabannya, mengapa akhir-akhir ini dia sering melamun di Taman
“Oh jadi seperti itu, sekarang kondisi Rayan bagaimana?”, tanya Bu Widya
“Dia  berada di rumah sakit sekarang dan saya masih belum tau dengan keadaan Rayan saat ini, maka dari itu saya mau kesana. Oh iya, disini ada yang bernama Kanaya tidak?”, tanya Ibu Rayan
“Saya Bu, memangnya ada apa?”, sahut ku dengan kaget
“Boleh ikut saya sebentar, ada yang mau saya bicarakan dengan kamu Nak”, ujar Ibu Rayan
            Aku pun berjalan sambil di tuntun arah oleh Ibu Rayan, dan itu pun tidak mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh Ibu Rayan kepadaku, dan pada akhirnya Ibu Rayan pun mempersilhkan masuk kedalam suatu kamar tidur yaitu kamar tidur Rayan.
“Ada apa Ibu mengajak saya disini? Apa yang mau Ibu sampaikan?”, tanya ku dengan heran
“Kanaya, Rayan sebenarnya sangat mengagumi kamu di dalam sekolah. Dia sangat senang bisa berkenalan dengan kamu. Di mata dia, kamu adalah wanita yang periang dan pintar. Kamu pandai mendapatkan hati semua orang untuk menjadi teman kamu”
“Apa? Ibu tau darimana?”, sempat ku tak mempercainya, dengan muka datar yang tidak mengetahui apa-apa
“Aku melihat dari cara senang nya dia pulang sekolah, dan membaca dari buku diary nya dia. Apa kamu ingin membacanya? Ini untuk kamu?”
            Dengan membaca isi dari diary nya, aku pun tertegun dan tidak mempercainya. Dengan lembaran pertama dengan kesan penuh first love dan masih banyak lagi lembaran-lembaran dalam diary itu. Penuh dengan suka cita, pertengkaran antara orang tua Rayan dan hingga masa-masa perjalanan hidupnya.
“Ayo Nay kita ke rumah sakit jenguk Rayan, katanya Rayan lagi kritis di rumah sakit”, ucap Nuri dengan tergesa-gesa
“Haa? Oh ya, ayo. Ibu Rayan dimana?”, ucapku
“Itu lagi ngangkat telfon dari rumah sakit”, sahut Nuri
            Sesampainya kita berada di rumah sakit, sambil menatap Rayan di depan kamar jendela, Ibu Rayan pun menangis tersedu-sedu. Dan menatap Rayan dari kejauhan pun entah mengapa perasaan khawatir berubah menjadi perasaan takut kehilangan dan hancur berkeping-keping melihat Rayan terbaring lemah di atas kasur yang di bantu oleh beberapa alat rumah sakit yang mengerikan seperti  nafas buatan dari oksigen tabung dan masih banyak lagi alat bantu yang berada dalam tubuh Rayan. Sambil membawa buku diary Rayan, Aku dan Ibu Rayan pun memasuki ruangan ICU.
“Rayaaaaaaaaannnn bertahan Nak”, suara Ibu Rayan yang berada dalam samping Rayan sambil memegang tangan Rayan dengan erat. Air mataku pun jatuh melihat Rayan dengan dekat
“Rayan berjuang ya, lawan rasa sakit itu! Jangan pernah merasa lelah, ayo Rayan kuat”, bisik ku di telinga Rayan
“Ibu tenang ya, jangan malah teriak di ruangan ini. Justru Rayan harus diajak untuk ngomong agar dapat berinteraksi. Beri dia motivasi karena dengan begitu akan membalikkan kondisi Rayan”, ujar Dokter yang sedang menasehati
“Rayan kamu ingat tidak pas kita pertama kali kenalan? Aku yang tanpa malu nya mengajak kamu untuk berkenalan? Terus kamu inget waktu kemarin lusa kita bercanda bareng di taman sekolah? Kita melihat kupu-kupu yang indah? Kamu masih ingat?”, tanya ku sambil memegang tangan Rayan.
“Oh iya Rayan, aku sudah membaca semua tulisan kamu di buku diary ini. Buku diary adalah teman curhat kamu selama ini. Dan aku mulai tahu dari buku ini bahwa kamu menuliskan tentang aku. Dan semua perjalanan kamu, kamu tuliskan di buku diary ini. Ternyata kamu adalah sosok laki-laki yang kuat dan penuh dengan rahasia. Hmm sempat aku kepo dengan hidup kamu, tapi dengan adanya buku diary ini aku telah menemukan sebuah jati diri kamu, bahwa sebenarnya kamu tidak kuat dengan kenyataan pahit di dunia ini. Tapi, kamu bersikap tegar dengan kondisi kamu yang seperti ini. Aku salut sama kamu. Mangkanya ayo sadar biar kita bisa main lagi di taman”, ucap ku sambil menangis untuk memberi semangat kepadanya. Seketika aku mengoceh, tiba-tiba tangan Rayan pun bergerak sebagai tanda dia telah mendengarkan apa yang aku bicarakan. Seketika aku mengoceh, tiba-tiba tangan Rayan pun bergerak sebagai tanda dia telah mendengarkan apa yang aku bicarakan.
“Tante tangan Rayan bergerak!”, ucap Nuri dengan penuh gembira
“Dokter tangan anak saya bergerak. Coba di periksa lagi, mungkin anak saya mau sadarkan diri”, tanya Ibu Rayan dengan penuh harapan. Dokter pun kembali memeriksa keadaan Rayan.
“Maaf Ibu, itu hanya refleksi pasien yang koma. Dan masih belum ada reaksi apa-apa dari kondisi Rayan. Tolong dibantu dengan do’a juga”, sahut Dokter
            Dengan melihat Rayan dan kembali untuk mengajak dia berinteraksi, tetapi alat yang disebelah Rayan yang dapat mendeteksi detak jantung seorang pasien pun berjalan dengan lurus dan bunyi yang terdapat dalam alat itu pun mendenging di telinga. Aku, Nuri, Ibu Rayan, dan Bu Widya pun melihat ke arah alat itu dan tercengang. Dan pada saat itu juga kami pun tidak mempercainya dengan kejadian baru saja ini.
“Dokter, apa maksud dari alat itu?”
“Sebentar Ibu, saya periksa kembali”, ujar Dokter yang nampak kaget dan berusaha untuk menyelamatkan nyawa Rayan.
“Tolong Dokter, selamatkan nyawa anak saya. Tolong Dok, saya minta tolong Dok”, ucap Ibu Rayan yang tercampuri oleh tangisan dan penuh rasa takut kehilangan Rayan. Dengan melihat raut wajah Dokter yang penuh dengan kecewa, kami pun merasa semakin takut
“Maaf Ibu, nyawa Rayan tidak bisa saya selamatkan. Ini semua sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa”
“Nggak mungkin Dok, Dokter bohong kan sama saya? Rayaaaaaaaannnn”, jawab Ibu Rayan sambil tidak dapat menghadapi kenyataan pahit itu
“Rayaaaann!! Ayo banguuuuun. Rayaaaan, kamu jahat sudah ninggalin Aku!!. Dibuku ini kamu bilang bahwa kamu sayang sama Aku. Tapi kenapa kamu tinggalin Aku? Tolong Rayan buka mata kamu, Aku sayang sama kamu Rayan!!”, teriak ku hingga menangis
            Pemakaman Rayan pun segera dilaksanakan, dan Aku pun menyadari bahwa refleksi dari tangan Rayan pun menandakan bahwa Rayan akan meninggalkan kita semua. Dengan semua masalah yang Dia hadapi, Dia pun masih bertahan dan berdiam diri. Dan Aku pun menyadari bahwa dibalik kediaman dan kesenangan Dia itu hanya pura-pura. Berpura-pura menjadi seorang yang tidak menemukan jati diri yang sebenarnya dan berpura-pura menjadi seorang yang kuat. Karena dibalik berpura-pura itu tersimpan banyak sejuta tangis yang ada di dalam diri Rayan sebenarnya.



Karya : Rahma Nur Layla Sari,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar